Tarsier Towers - Jurnal 4

19 May, 2011

Menyerahkan buku-buku tentang Kota Denpasar kepada Walikota Bitung
Urusan di provinsi sudah beres, lalu menuju ke daerah dimana syuting akan diselenggarakan. Pada project ini, syuting berada di wilayah Kota Bitung. Tanggal 25 April 2011 saya, Melisa, Yunus dan Frans menghadap Walikota Bitung dan diterima oleh Wakil Walikota Bitung, Max J. Lomban, mewakili Walikota yang saat itu sedang bertugas ke Jakarta.


Saya menyerahkan buku-buku tentang Kota Denpasar sebagai cinderamata dari kota asal kelahiran saya.Setelah itu kami pun menghadap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bitung, Ferry R. Bororing.

Hari itu kami akhiri dengan menghadap, melapor dan mohon dukungan kepada Kapolres Bitung, AKBP Bayu Satake.
Menghadap Kadisbudpar Kota Bitung, Ferry R. Bororong
Menghadap dan melapor kepada Kapolres Bitung, AKBP Bayu Satake

Read more...

Tarsier Towers - Jurnal 3

Meminta arahan tim Bea Cukai Bandara Sam Ratulangi
Tahap persiapan mempersiapkan kedatangan kru asing adalah keimigrasian dan bea cukai. Keimigrasian adalah untuk memastikan bahwa visa yang dipergunakan adalah Visa Jurnalis (tipe B211) yang berlaku selama 60 hari sejak pertama kali memasuki wilayah hukum RI.

Visa Jurnalis di ajukan melalui Kedutaan Besar RI di negara dimana kru berasal. Dalam pekerjaan ini, para kru berasal dari Inggris.
Setelah visa diberikan, proses selanjutnya adalah surat ijin syuting di Indonesia yang dikeluarkan oleh Divisi Perfilman Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Divisi inipun memberikan surat keterangan kepada Bea Cukai di Bandara dimana kru akan tiba di Indonesia.

Ijin selanjutnya adalah SIMAKSI, yaitu Surat Ijin Memasuki Kawasan Konservasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan melalui Balai KSDA. Surat ijin ini diperlukan karena syuting akan berlangsung di hutan konservasi.

Read more...

Tarsier Towers - Jurnal 2

14 May, 2011

Menyerahkan dokumen kepada Kapolda Sulut, Brigjen Pol. Carlo Britz Tewu
Aktivitas syuting berkaitan dengan keamanan. Apalagi melibatkan crew asing. Untuk itu saya menghadap Kapolda Sulut, Brigjen Pol. Carlo Britz Tewu tanggal 21 April 2011. Beliau hari itu baru saja tiba dari dinas ke Jakarta, dan oleh Kospri beliau Kompol Boy Simanjuntak jadwal pertemuan dimajukan dari jam 13.00 menjadi jam 11.00 WITA.

Saya menghadap bersama Agung Bawantara dan Melisa dan melaporkan jadwal kegiatan, nama-nama plus data-data para crew asing, lokasi syuting dan crew lokal.

Saya mohon dukungan beliau untuk di lapangan. Beliau memberi dukungan penuh berupa bantuan kebutuhan operasional untuk kelancaran syuting. Terima kasih Pak Kapolda.
Menjelaskan kelengkapan dokumen syuting kepada Kapolda Sulawesi Utara
Kapolda Sulut memberikan bantuan yang bisa diberikan kepada tim
Perbincangan yang santai dan hangat. Terima kasih Pak Kapolda.

Read more...

Tarsier Towers - Jurnal 1

Bersama Kepala Keamanan Bandara Sam Ratulangi, Manado
Persiapan untuk syuting film dokumenter tentang Tarsius di TWA (Taman Wisata Alam) Batu Putih dan Batu Angus, Tangkoko, Bitung, Sulawesi Utara dimulai sejak 19 April 2011.

Tahap awal adalah menyiapkan dokumen seperti Visa Jurnalis untuk para crew asing (diajukan lewat Kedutaan Besar RI di negara asal), kemudian ijin syuting yang dikeluarkan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, kartu Jurnalis oleh Kementerian Luar Negeri, SIMAKSI (Surat Ijin Memasuki Kawasan Konservasi) oleh Kementerian Kehutanan, Keimigrasian dan Bea Cukai (tata cara masuknya peralatan yang akan didatangkan untuk keperluan syuting).

Saya berangkat ke Manado tanggal 19 April 2011 untuk mempersiapkan laporan ke Kapolda dan Gubernur Sulut, Kapolres dan Walikota Bitung, Imigrasi serta Bea Cukai Bandara Samratulangi, plus Kepala Balai KSDA Sulut.

Tanggal 20 April, saya menghadap Assisten Manager Keamanan Bandara Samratulangi, Arief Sirradjudin, untuk mengkoordinasikan persiapan kedatangan tim asing.


Tim terdiri dari: 
Director: Geoff Deehan 
Producer: Mark Wild 
Director of Photography: Mark Sharman

Read more...

Pemilik Alam Semesta memberi ku kesempatan untuk menikmati Ciptaan Nya

26 March, 2011

Betapa tidak? Pagi hari aku masih berada di keramaian kota Manado, tiga jam kemudian aku dan beberapa orang telah berjalan menapaki hutan lindung Tangkoko

Kebahagiaan ku terasa lengkap dengan melihat burung Hornbil di puncak pohon besar, mengepakkan sayapnya dan suaranya seperti helikopter.

Mendengar suara belalang hutan, suara burung Maleo, menyaksikan Tangkasi berlompatan ke luar sarangnya di lubang pohon saat petang hari dan menunggu kedatangan mereka kembali ke sarang di saat subuh.

Mengagumi berbagai tumbuhan dengan lekuk batang dan cabangnya, dan banyak hal lainnya.

Ketenangan hutan berbaur dengan suara deburan ombak dari tepi pantai di sisi Utara hutan. Betapa bersihnya udara di sekitar kami saat itu.

Sungguh, kesempatan yang membuat orang merasa cemburu dengan pengalamanku.


English version:
Owner of the Universe gave me the opportunity to enjoy His Creation

Why not? In the morning I was still in the crowded city of Manado, three hours later me and some people have walked up the Tangkoko's protected forest.

My happiness was complete with a view of Hornbill bird in the big treetops, flapping his wings and the sound like a helicopter.

At the sound of the forest grasshopper, sound of Maleo bird, watch Tangkasi jumped out of its nest in tree holes during the evening and waited for their arrival back to the nest at dawn.

Marvel at the forest tranquility mingled with the sound waves from the beach on the North side of the forest. How clean of the air around us at that time.

Indeed, the opportunity that makes people feel jealous with my experiences.

Read more...

Tiga Film Dokumenter Bali Menang di Jakarta

15 November, 2010

Film dokumenter Bali yang diikutsertakan dalam lomba film dokumenter yang diselenggarakan oleh Kemenbudpar memenangkan tiga penghargaan. Topeng Dalem Sidakarya, Janger Kolok dan Swadharmaning Jro Ring Batur masing-masing menempati posisi I, II dan Harapan II. Karya-karya ini merupakan peserta Lomba Film Dokumenter Bali yang dikaitkan dengan Pesta Kesenian Bali 2010.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Read more...

Pendakian ke Gn. Batur di tutup

Berdasarkan pantauan Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi tanggal 8 November 2010, status Gunung Batur di Kintamani adalah waspada (level 2). Untuk menindaklanjuti kondisi ini, pos pendakian Gn. Batur yang berlokasi di Toya Bungkah, menutup sementara pendakian ke gunung tersebut.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Read more...

Assist Versus Media sebagai Manajer Lokasi

14 September, 2010

Pengambilan gambar untuk lagu Earth Song di Villa Ti'i, Canggu
Atas rekomendasi Tess, kami dihubungi oleh Tanya Babic, Creative Director of Versus Media, Sydney.
Begini bunyi penggalan emailnya:

Hi there,
I am a friend of Tess Strelein and Iain Mackenzie's from Australia. Lawrence Blair told me you helped them on a shoot in Bali not so long ago and that I should get in touch with you.

We would like the following locations:

- A large house/villa with a piano for one day
- A busy marketplace and city street for the next day
- beach and the coconut forest nearby as well as the mountain

We would need a location manager from the 2nd September to the 5th of September.

I would also love your advice on who is the best agency to book crew through. I just need a hair stylist and a makeup artist.

Thanks so much! Look forward to hearing back from you.

Kemudian saya membalas email Tanya Babic dan menanyakan beberapa hal berkaitan dengan proses pengurusan ijin, dll.

Akhirnya, proses pengambilan gambar video klip "Earth Song & Kindness" Dewi Sisca Puspita berlangsung tanggal 3, 4 dan 5 September 2010 di lokasi antara lain:
1. Pasar Merta Sari Candikuning, Bedugul
2. Kebun Raya (Botanical Garden) Eka Karya, Bedugul
3. Legong Keraton Beach Hotel, Pantai Berawa, Canggu, Kuta
4. Desa Sembung, Mengwi, Badung
5. Villa Ti’i, Pantai Pererenan, Badung

Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu kelancaran syuting video klip tersebut.
Di Pasar Mertasari, Candi Kuning Bedugul
Di Pasar Mertasari, Candi Kuning, Bedugul
Di Pasar Mertasari, Candi Kuning, Bedugul
Pengambilan gambar untuk lagu "Earth Song" di Kebun Raya Ekakarya, Bedugul
Achun, penata rias untuk Dewi Sisca Puspita

Read more...

Wayang Rok Blus, Dua Tokoh Baru

09 June, 2010

Rock Blues (rok belus - dalam Bahasa Bali)
Membaca kata "wayang", tentu gambaran kita akan menuju ke perwatakan Arjuna, Yudistira, dll di lakon Mahabarata atau Rama, Sinta, dll di lakon Ramayana. Wayang Rok Blus merupakan penggambaran dua tokoh nya yang bernama Wayan Rok dan Nyoman Blus yang sebelumnya tak terwakilkan di dalam dunia perwayangan.

Ide ini dicetuskan oleh seorang Agung Bawantara, diilhami oleh keberadaan teman-teman komunitas musik Rock dan Blues yang sering ngobrol di Warung Tresni Jl. Drupadi, Renon, Denpasar.
Bahkan gurat kedua tokoh dalam wayang tersebut diwakili oleh Kiki (yang mewakili komunitas Rock) dan Yande (yang mewakili komunitas Blues). Guratan ini kemudian digoreskan oleh Kadek Jango Paramartha dan Agus Yudha, teman-teman di Bog Bog Magazine.

Dalam konsep besar, pementasan Wayang Rok Blus hadir dalam tiga panggung besar. Dalam konsep kecil, yang saat ini ditampilkan pada program di TVRI Bali, hadir dengan durasi 5 (lima) menit, setiap hari pukul 16.25 WITA dan 17.55 WITA.







Mereka hadir membawakan isu-isu yang hangat di masyarakat dari kesenian hingga politik, dari keamanan hingga jalur hijau, dll. Sang Dalang, Gus Mame, meramu penampilan Rok dan Blus dengan iringan musik tradisi kontemporer. Dan kedua tokoh selalu berbeda pendapat dan saling menyalahkan. Siapa yang benar? Silakan simak di TVRI Bali setiap hari (kecuali Hari Raya Nyepi).

Keterangan foto:
Foto-foto di atas diabadikan saat kunjungan Kabid Humas Polda Bali, Bapak AKBP Gde Sugianyar Dwi Putra, ke TVRI Bali untuk melihat proses rekaman Wayang Rok Blus di TVRI pada tanggal 27 Mei 2010.

Read more...

Assist Dr. Sir Lawrence Blair: Bali Island of The Dog (2)

31 May, 2010

Bersama Dr. Lawrence Blair di markas K9 Polda Bali
Ternyata membuat film dokumenter membutuhkan waktu untuk riset dan syuting yang lumayan lama. Sejak pertama kali kami diminta Lawrence Blair untuk melaksanakan riset di bulan Agustus 2009 lalu, hingga kini riset masih terus berjalan, mengikuti perkembangan dari waktu ke waktu. Hal ini memberi pelajaran amat berharga bagi kami.

Dari satu sumber bergerak ke sumber lain. Dari satu info mengejar info berikutnya. Pengambilan gambar berjalan seiiring info dan sumber. Menarik! Rasanya aku mendapat pelajaran yang tidak mungkin didapat di ruang kelas. Aku belajar dan praktek dalam waktu yang bersamaan. Lawrence mengajariku banyak hal di alam bebas. Berinteraksi dengan lingkungan. Komunikasi dengan berbagai kalangan. Menghargai dan menghormati semua mahluk. Masih banyak hal lainnya yang bisa dan sedang aku pelajari dari Lawrence. Dan aku masih punya waktu untuk itu.


Read more...